JOURNAL

Senin, 03 Februari 2014

Minanga Tamwan ( Asal Usul Kampar )

‘’Langit menyentak naik, bumi menyentak turun, perlahan air lautpun surut. Belumlah Kampar bernama Kampar, Kampar bernama Laut Ombun.’’

Seperti itulah bunyi pribahasa yang mengisahkan panjangnya perjalanan laut Embun (amwan) yang kemudian disebut sungai Kampar.

Kita mulai dari pendapat Prof Dr Poerbatjaraka yang mengatakan bahwa Minangkabau berasal dari bahasa Sangsekerta yaitu Minanga Tamwan. Kata-kata ini terdapat dalam prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini menceritakan tentang perluasan wilayah yang bermula dari kemenangan utusan Raja Minanga Tamwan yang dipimpin Datuk Cribijaya (Dt. Sibijayo panglima perang Minanga Tamwan) melawan bajak laut yang banyak meresahkan masyarakat di sekitar sungai Palembang (sungai Musi) sekarang.

Selanjutnya Prof Herman Neubronner Van Der Tuuk seorang Belanda mengatakan bahwa Minangkabau merupakan Pinang Khabu. Yaitu tanah pangkal, tanah asal atau tanah leluhur. Pendapat ini diperkuat oleh Thomas Stamford Raffles (Inggris) mengatakan, ‘’di sini kita menemukan bekas-bekas suatu kerajaan besar (Minangkabau) yang namanya hampir tidak di kenal sama sekali tetapi sangat nyata merupakan tempat asal bangsa Melayu yang bertebaran di pulau nusantara.’’

Berangkat dari pendapat yang diceritakan oleh salah seorang pewaris Muaratakus Syahru Ramadhan menyebutkan, ‘’kata Kabhu atau Kapu, adalah Sungai Kapur asal muasal nama Sungai Kampar. Sedangkan kata Kapur sendiri berasal dari kerajaan tertua Langka/Alengka istananya bernama Langkapuri. Di dalam kitab Bhismaparwa yang ditulis oleh seorang begawan Hindu Valmiki mengatakan bahwa kerajaan Alengka berada di pulau Swarnadwipa (Sumatera/mantra). Sedangkan rajanya bernama Indrajid/Indrajitra/Indrajatra/Indrajati.

Kemudian kerajaan ini dilanjutkan anaknya yang bergelar Maharaja Diraja dari kerajaan Thangka atau Katangka ibu kotanya Matankari/Madangkari yang sekarang terletak di Muaratakus yang dialek lokalnya disebut Motangkowi/Motakui. Peninggalan Langkapuri ditandai dengan adanya situs candi Palangka di Muaratakus.

Raja pertamanya bergelar Maharaja Diraja, kemudian diwarisi oleh Ninik Dt. Raja Dubalai sebagai Raja Soko (saka), Segala Ninik Datuk yang memiliki kaum-kaum dan berpuak-puak berninik pula kepada Ninik Dt. Raja Dubalai, sebab di situlah letak asal ninik mereka terdahulu. Seperti Dara Puti/Darah Putih dan Dara Hijau/Putri Hijau/ataupun Darah Biru. Di negeri selatan Asia di kenal dengan White Tara dan Green Tara. Ninik Dt. Raja Dubalai menggunakan adat Andiko yang menjadi asal mula adat matriakhat paham keibuan, yang sudah ada sejak zaman hindu kuno bahkan animisme.

Minanga, binonga, menonga, minang, binaga berasal dari kata Melayu kuno yakni Inang, yang mempunyai makna ibu, induk atau pusat. Berinang, beribu dan berpusat. Dalam pengertian hari ini, sungai ialah sebagai pusat peradaban. Jalur transportasi perdagangan yang sangat padat. Sungai besar itu di belah oleh banyak anak sungai kecil yang berfungsi sebagai pagar, atau batas wilayah (sempadan), adat, negeri.

Negeri dalam Sangsekerta merupakan gabungan dua suku kata Naga dan Ri, kemudian Na dan Gari (kari). Naga dalam istilah bahasa adalah mahluk sebangsa ular penguasa atau ras tertinggi di air. Atau singkatnya binatang penguasa perairan. Ra (mesir) dewa matahari atau dewa api. Ri yang bermakna air. Ini berdasarkan sifat peruntukkan makna kata. Ra itu cahaya (api), sementara Ri adalah air. Ri juga dianggap simbol yang menakutkan, karena kekuasaan dan kekuatan yang ada didalamnya. Perahu-perahu naga kuno dianggap tangguh dan menakutkan bisa menaklukkan samudera dizaman nusantara kuno.

Na atau juga disebut Nan berarti Yang. Sedangkan Gari/kari bermakna dipagari, dilingkari atau berpagarkan. Sehingga sungai itu sendiri dianggap sebagai manifestasi dari naga sebagai penjaganya. Seperti mahligai. Istana yang dilingkari. (ma-li-kari). Dari istilah tersebut berubah menjadi negara dan negeri.

Negeri merupakan sebuah tatanan masyarakat yang mendiami suatu kawasan alam dibentuk oleh aliran sungai-sungai. Hal inilah kemudian yang digunakan oleh masyarakat disepanjang sungai Kapur (Kampar) dahulunya menggunakan simbol-simbol naga dalam peradaban mereka. Seperti bangunan rumah, perahu, keris, motif atau ornamen-ornamen yang dipergunakan sehari-hari. Misalnya motif naga-naga yang dihiasi dengan pucuk rebung yang sangat identik dengan gambaran pertemuan anak-anak sungai dengan sungai sebagai induknya. Intinya naga adalah penguasa perairan dalam pandangan mereka saat itu.

Selain naga, yang dijadikan simbol, masyarakat Kampar kuno juga menggunakan simbol lainnya yakni gajah dan elang. Mengapa gajah, karena gajah dipandang sebagai mahluk yang berkuasa di darat. Sedangkan elang merupakan penguasa di langit menurut keprcayaan zaman pra Islam. Saat ini simbol elang putih (langkapur) dapat kita lihat pada Istana Siak, sedangkan simbol naga kepala sembilan di pakai di Istana Pagaruyung. Itu menandakan mereka adalah zuriat dari Langkapuri. Nago itu sendiri adalah sungai Kapur, sedangkan kepalanya di Kapur Sembilan, merupakan sembilan pintu masuk (gerbang) yang bertemu (bermuara) pada sungai Kampar sekarang. Banyak juga yang memakai nama Langka yang menandai berkait kelindan dengan zuriat Langkapuri.

Anak-anak sungai disebut arau atau aro. Pertemuan sungai disebutlah muaro. Tamwan atau tomuan pusat pertemuan orang-orang dizamannya. Pertemuan antara sungai Kampar dan sungai Muara Mahat. Minanga Tamwan ialah pusat pertemuan. Muara sungai Kapur (Kampar) dulunya juga pernah disebut laut embun (ombun). Dikisahkan bahwa dataran rendah selain bukit barisan adalah lautan yang ditutupi oleh embun. Disanalah kisah seorang Putri yang bernama Puti Embun/amwan/awan. Banyak juga kita temukan yang memakai nama-nama serupa, misalnya Maimun, Karimun, dan Barumun.

Prasasti Kedukan Bukit isinya menceritakan bagaimana, cara perjalanan, jumlah, tujuan, dan kegembiraan pasukan Dpunta Hyang bergerak dari Minanga Tamwan. Minanga Tamwan bercerita tentang pusat kepercayaan, pusat dagang, pusat pertemuan banyak orang, keramaian, pusat kejayaan atau pusat peradaban.

Sekali ayiu godang, sekali pulo topian barubah (Sekali air pasang, sekali pula berubahnya tepian sungai). Bukan hidup prakmatis, tetapi gambaran perjalanan Dapunta Hyang berangkat dari niat mengembangkan kampung (wilayah), kekuasaan, kepercayaan dan kesejahteraan.

Bagaimana pasukan Dapuntah Hyang bergerak dari Minanga Tamwan ke Palembang. Sedangkan menurut I Tshing atau Atisha menyebut Sih li Foche/Seli Foche, para ahli menyebut Sriwijaya. Sementara Palembang disebut tersendiri oleh I Tsing dengan sebutan Polinpang. Yang pasti dua nama sebutan itu berbeda. Maka wajar saja hingga saat ini belum ditemukannya situs (lokasi/pusat) Sriwijaya di Palembang.  Dalam prasasti tersebut ditulis ‘’marlapas dari Minanga Tamwan menuju Mukaupang’’. Imbuhan Mar, apakah berarti Me atau ber. Kalaulah artinya Me berarti Melepas, Dapuntah Hyang tidak ikut, maka pusat Sriwijaya itu tetap di Minanga Tamwan. Namun jika Ber maka tentulah pusat Sriwijaya pindah ke Palembang.

Diakhir tulisan prasasti di tulis Sriwijaya sebanyak 3 kali. Hal ini tentu berbeda dengan prasasti lainnya. Karena tidak ditemukan prasasti yang di tulis nama suatu kerajaan hingga tiga kali untuk penutup tulisan. Sebut saja kerajaan Majapahit belum pernah ada ditemukan namanya di tulis tiga kali di akhir prasastinya, Majapahit, Majapahit, Majapahit. Jangan-jangan ini hanyalah ungkapan perasaan kegembiraan semata. Lalu timbul pertanyaan berikutnya, apa nama kerajaannya.

Cara perjalanan pasukan Dapunta Hyang ke Palembang ialah rombongan 1312 orang. Prasasti ini ditemukan sekitar 16 Juni 682 M. Tujuan pasukan Dapunta Hyang bertolak ke Palembang ialah membuat Wanua/Benua/Negeri/Kota. Pasukan Dapunta Hyang akhirnya berjaya menguasai Palembang.

Di dalam kitab kuno Nagara Kretagama tidak menyebutkan adanya kerajaan bernama Sriwijaya. Minanga Tamwan yang diakui sebagai tempat bertolaknya pasukan Dapunta Hyang yang terdapat situs kuno peradaban Hindu-Buddha Muaratakus. Muaratakus berasal dari dialek lokal Motangkowi dalam Sangsekerta Matangkari/Madangkari sebagai pusat kerajaan Thangka/Katangka/Kataha, sebagai pusat Pesastrian Damma Bikhu Buddha yang dikembangkan oleh Dalai Lama di Tibet saat ini. Di dalam lukisan orang-orang Tibet yang menceritakan tentang adanya kejayaan Thangkas sekarang Thangkus pada masanya. Beberapa lukisan yang menggambarkan bentuk-bentuk Mahligai diapit beberapa sungai yang bermuara ke laut, dijaga oleh makhluk menyerupai raksasa mengendarai kuda diikuti oleh banyak pengikutnya, diasumsikan itu adalah gelombang Kudo Bono.

Di Prasasti Barus yang ditemukan pada tahun 1873 Masehi di Lobu Tua Baros (Sumatera Utara) disebutkan bahwa ‘’Varus anak Matankari’’. Sedangkan Matankari itu adalah sebutan awal Muaratakus ibu kota kerajaan Thangka (Kathangka) dipimpin oleh Damma Raja (Raja Soko) yang sekarang bergelar Ninik Dt. Raja Dubalai yang bersuku Domo. Para Ninik dan Datuk yang berada di hulu sampai ke hilir sungai yang memakai adat, ‘’Raja berpenghulu, Penghulu beradat, adat berandiko, andiko bersoko kepada Talago Undang di Muaratakus.’’

Jauh sebelum adanya kerajaan yang kita ketahui saat ini, penghulu adat sudah memakai adat andiko yang kemudian dipakai oleh raja-raja yang datang kemudian. Jadi jelaslah bahwa Minanga Tamwan merupakan pusat peradaban awal manusia dan kerajaan pertamanya ialah Langkapuri memakai adat Andiko yang berpaham matriakhat atau silsilah keibuan.***


Amirullah SPd
kelahiran Lubukagung Kesultanan VIII Koto Setingkai,  XIII Koto Kampar, 12 November 1977. Saat ini memimpin Grup Muhibah Seni Universitas Riau. Bekerja di Kemdikbud sebagai Penyuluh Budaya.
 
 
Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank You