JOURNAL

Rabu, 20 April 2011

Balimau Kasai, Tradisi Adat Dalam Perubahan

>>Salah Satu Sudut Tepian Sungai Kampar, Acara Balimau Kasai, Kabupaten Kampar - Riau
http://i956.photobucket.com/albums/ae45/rizal_rasnur/antusias-masyarakat-menyaksikan-Bal.jpg

>>Salah Satu Sudut Tepian Sungai Kampar, Acara Balimau Kasai, Kabupaten Kampar - Riau
http://i956.photobucket.com/albums/ae45/rizal_rasnur/sampanhiasmenjadilombayangditunggud.jpg

Setiap daerah memang mempunyai cara tersendiri dalam menyambut kedatangan bulan Ramdhan, termasuk masyarakat di kabupaten Kampar. Balaimau Kasai atau yang dikenal dengan potang Balimau merupakan kegiatan tradisi masyarakat kabupaten Kampar dalam menyambut bulan Ramadhan, kegiatan ini dilaksanakan satu hari sebelum hari Ramdhan tiba. Biasanya masyarakat Kampar mengisinya dengan memasak makanan yang lezat seperti Lemang, Lepat, Kue, Rendang, Sup daging, dan makanan lain yang nantinya juga untuk menyambut sahur pertama dalam bulan ramadhan.

Dan kegiatan yang terpenting adalah menyiapkan ramuan untuk balimau ini yang terdiri dari rebusan limau purut atau limau nipis, dan untuk temannya adalah kasai (lulur) yang terdiri dari bahan bahan alami seperti beras, kunyit, daun pandan dan bunga bungaan yang membuat wangi tubuh.

Limau Kasai ini tidak hanya digunakan sebagai bahan untuk mandi dan membersihkan diri saja, namun juga menjadi hantaran utama yang akan diantarkan ke rumah keluarga, orang tua dan sanak family lainnya. Limau kasai yang nantinya juga ditemani dengan kue-kue dengan makanan lainnya akan menjadi pembuka acara silaturahmi untuk saling memaafkan sebelum ramadhan tiba.

Balimau Kasai pada dasarnya adalah hari dimana masyarakat melakukan kegiatan penyucian, penyucian dalam segala bentuk, penyucian batin dengan cara mengunjugi sanak keluarga, meminta maaf dan saling mengikat kembali silaturahmi satu sama lainnya. Sedangkan penyucian fisik dilakukan dengan mandi dengan menggunakan limau tersebut.

Sayangnya, dalam perjalanan waktu, makna Balimau Kasai berangsur angsur mengalami pergeseran, Balimau Kasai lebih identik dengan mandi mandi menjelang Ramadhan tiba, masyarakat beramai- ramai menghadiri acara mandi bersama di tepian sungai Kampar, Danau danau dan tempat pemandian lainnya. Mandi ini tidak lagi mempunyai batasan antara laki laki dan perempuan sehingga bercampur pada satu tempat. Acara mandi bersama ini juga dimeriahkan dengan musik organ tunggal dengan musik dangdut yang dinyanyikan oleh artis dengan goyangan Hot dan tidak menutup aurat.

Makna silaturahmi dan saling meningkatkan Ukhuwah tidak lagi menjadi makna utama, sudah jarang anggota keluarga saling mengunjungi untuk meminta maaf, yang ada hanyalah anak anak kecil yang datang ke rumah sanak family yang datang dengan membawa rantang dan pulangnya mendapat uang berkah, sehingga kepentingan untuk mendapatkan uanglah yang menjadi prioritas utama.

Hari Balimau Kasai malah dimaknai anak anak muda Kampar dengan hari bersenang senang sebelum masa pengekangan tiba, karena pada bulan Ramadhan semuanya dibatasi, pergaulan, makan makan dan hura hura, maka hari Balimau Kasai menjadi ajang balas dendam sebelum peribadatan, maka pada itu mereka bersenang senang dengan wara wiri di jalan raya, berboncengan berduan muda mudi, dan nantinya diakhiri dengan mandi bareng pujaan hati.

Akibat lain adalah arus lalu lintas menjadi macet dan macet, dan sudah dapat diduga kecelakaan lalu lintas menjadi tinggi, puluhan nyawa melayang sebelum sempat melaksanakan indahnya ramadhan, puluhan lainnya terbaring di rumah sakit ditemani air mata penyesalan, Bukan hanya jalan raya yang meminta korban, sungai, danau dan pemandian juga merengut nyawa, karena arus yang deras dan danau yang dalam kadang tidak disiapi dengan kemampuan berenang yang baik. Lagi lagi nyawa melayang dan lagi lagi orang tua berduka.

Bagaikan gayung bersambut, pemerintah menjadikan kegiatan ini sebagai kalender wisata, karena dengan banyaknya masyarakat yang berkumpul dalam satu tempat juga menarik banyak pngunjung dari daerah sekitar, dan untuk menambah daya tarik panitia Balimau kasai menambah berbagai item kegiatan seperti Lomba sampan hias, panjat pinang, aneka permainan rakyat. Perubahan semakin menjauh membawa makna semakin hilang.

Perubahan tradisi ini menimbukan keprihatinan dari banya pihak, protes juga penentangan dari berbagai kalangannpun muncul, MUI, akademisi bahkan meminta agar acara tersebut ditiadakan, tentu saja ini mendapat protes pula dari kaum adat dan pemerintah karena Balimau Kasai adalah tradisi yang turun temurun ratusan tahun dan sebenarnya mempunyai makna yang bagus hanya saja…terlalu jauh menyimpang.

Untunglah, dalam beberapa tahun ke belakangan ini pemerintah dan beberapa komponen masyarakat mulai menyadari bahwa kegiatan ini harus dikembalikan ke makna yang sebenarnya, dalam event Balimau Kasai untuk kabupaten mulai dibatasi dalam acara mandi bersama, tidak lagi boleh bercampur antara laki laki dan perempuan, bahkan perempuan yang sudah remaja dan dewasa dilarang mandi ke sungai sehingga tidak akan menimbulkan fitnah.

Hanya saja sebagaimana hokum alam mengatakan sangat mudah menghancurkan amatlah susah memperbaiki, niat baik pemerintah dan masyarakat tidaklah seperti membalik telapak tangan, wilayah kabupaten Kampar sangatlah luas dan hampir semua desa melaksanakan Balimau Kasai ini, tentunya perlu waktu bertahun tahun dan kerja keras untuk mengembalikan tradisi budaya ini kembali ke makna asalnya. Namun tiada kata berhenti untuk kebaikan, semoga tradisi itu kembali membawa makna kesucian. Amien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank You