JOURNAL

Rabu, 20 April 2011

17.5 Persen Masyarakat Kampar Masih Miskin

Bupati Kampar Burhanuddin Husin mengakui kalau angka kemiskinan di daerahnya masih cukup tinggi. Terdapat 17.5 persen warga yang belum sejahtera.

Riauterkini-BANGKINANG-Dalam membangun Kampar Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu dukungan semua pihak apalagi Kampar menganut konsep tali bapilin tigo yang menggabungkan peranPemerintah, Ninik Mamak dan Alim Ulama dalam berbagai kebijakan pembangunan.

‘’ Tiga elemen ini harus mampu membangun sinergisitas sehingga pembangunan dapat berjalan optimal dengan hasil yang memuaskan. Konsep tali bapilin tigo telah mampu memberikan kontribusi yang cukup besar walaupun tidak secara langsung,’’ ujar Bupati Kampar H Burhanuddin Husin bersama Ketua DPRD Kampar H Syafrizal saat tampil perdana pada edisi Bincang Kampar yang ditaja oleh Radio RSPD Kampar, Senin (24/1/11), dengan topik Membangun Kampar dari harapan hingga kenyataan.

Tantangan yang dihadapi, perhatian Kampar tetap pada soal rendahnya SDM serta angka kemiskinan yang semakin tinggi. Dibeberkan Burhanuddin untuk saat ini angka kemiskinan telah terkoreksi menjadi 17,5 persen dari 25,6 persen pada awal pemerintahannya. Tiga kecamatan penyumbang angka kemiskinan tertinggi adalah kecamatan Kampar Kiri Hulu, XIII Koto Kampar dan Kecamatan Koto Kampar Hulu yang hampir mencapai 60 persen.

‘’ Akan tetapi tiga kecamatan ini lebih pada persoalan non teknis dimana tiga Kecamatan ini berada pada kawasan hutan yang tidak bisa dikembangkan untuk lahan produktif bagi warga. Begitu juga soal pendidikan dimana 50 persen penduduk Kampar tercatat sebagai angka tamat dan tidak tamat SD,” ujar bupati.

Pada bidang pendidikan, pendirian Politeknik Kampar (Polkam) menurut Burhanuddin merupakan terobosan strategis dalam menciptkan SDM yang handal. Polkam dengan study khusus soal Kelapa sawit diharapkan mampu menelurkan tenaga kerja yang handal terutama soal sawit dimana saat ini kebun sawit yang ada di Kabupaten Kampar merupakan yang terluas di Propinsi Riau. Bahkan Pemerintah pusat telah mengapresiasi dengan memberikan bantuan yang cukup besar tiga tahun belakangan ini.”Politeknik yang kita miliki ini mendapat dukungan yang luar biasa dari pemerintah Pusat. Bahkan menjadi salah satu dari delapan politeknik di Indonesia yang mendapat bantuan dari Pusat,” ujarnya.

Terkait peran DPRD, dalam hal pengawasan dan penganggaran, Ketua DPRD Kampar, Syafrizal, dengan tegas mengatakan fungsi tersebut telah dijalankan dengan benar dan konsekwen oleh semua anggota DPRD Kampar.” DPRD merupakan salah satu unsur penyelenggara Pemerintah Daerah. Dalam menjalankan fungsi yang melekat pada DPRD kami menjalankan dengan penuh komitmen dan tanggung jawab sehingga roda Pemerintahan dan pembangunan dapat berjalan dengan baik,” sebutnya.

Pada saat itu Syafrizal juga tak sungkan menyanjung eksekutif yang mampu mengambil dana dari pusat dan Propinsi untuk berbagai sektor. Jika pada 2006 lalu dana dari Propinsi hanya mengucur Rp. 16 Milyar sekarang ini sudah pada kisaran diatas Rp. 200 miliar. Begitu juga dana dari pusat, bahkan untuk dana stimulus Kampar menjadi satu-satunya kabupaten di Riau yang mampu mendapatkan danan tersebut.”Apresiasi atas kinerja Pemerintah yang telah berjalan on the track ini,” sebutnya.

Acara yang ditaja RSPD yang menghabiskan waktu satu jam tersebut Bupati Kampar, Drs. H. Burhanuddin Husin MM bersama Ketua DPRD Kampar, Dr. H. Syafrizal MSi, tampil prima menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh dua orang kru RSPD, Mahyudin Yusdar dan Deni Mardalena.***(man)




----------------------------------------


sampai detik ini saya belum melihat program nyata dari pak burhan ini terhadap pengentasan kemiskinan, perbaikan infrastruktur dll

sungguh ironis kabupaten yang masuk list 20 kabupaten terkaya di indonesia ini punya infrastruktur sangat jelek, saya menilai ini karna sejak saya lahir di kabupaten kampar sampai sekarang tidak ada perubuhan yang signifikan dari pemerintah daerah kampar untuk kemajuan daerah ini.

yang selama ini buat dearah - kecil yang berkembang bagai kota kecil di kampar itu murni karna keterlibatan penuh dari pihak swasta, dari pemda kampar NOL besar. :ohno:

dalam minggu ini saya juga sudah mengelilingi kampar mulai dari kampar kiri sampai kampar kanan, tapi yang saya lihat tak jauh beda dari yang dulu - dulu.

di kampar kiri orang di warung warung kopi selalu berbicara tentang pemekaran wilayah dan di kampar kanan pun tak kalah hebohnya berbicara hal itu. itu akibat dari ketidak mampuan pemda dalam memenuhi kebutuhan utilitas daerahnya. dan yang di anggap kampar itu seolah olah hanya sebuah kota kecil yang tak pernah brubah dari dulu nampaknya " bangkinang"

bangkinang dan sekitar nya itu tidak ada 10 persen sumbangan nya terhadap pendapatan kabupaten kampar.

65 persen lebih pendapatan itu dihasilkan dari kecamatan tapung, yang jalan raya nya bak kolam di sawah. dan sisa nya dari daerah kampar kiri sana..


di tapung memang pembangunan sangat menggeliat sekali pendapatan perkapitanya pun sangat tinggi, selama ini masyarakat di sana merelakan pendapatan nya untuk membangun jalan, jalan yang memang di kawasan pemukiman aja sedangkan jalan utama nya gak mungkin dong warga sanggup memdanainya.. :nuts: harga tanah di di daerah tapung di sekitar tempat orang tua saya tinggal sekarang cukup tinggi sekali bahkan sampai 800rb/meter gilaaa:nuts:


saya berhaarap daerah ini di pimpin oleh orang yang lebih berkompeten, yang yang tidak hanya membangun daerah yang jadi kantong pemilihnya saja tapi mau membangun kampar raya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank You