JOURNAL

Rabu, 26 Mei 2010

Ratapan Sunyi di Semenanjung Kampar (Film)



Film Ratapan Sunyi di Semenanjung Kampar lahir dari krisis kerusakan hutan gambut yang akut di Semenanjung Kampar yang diakibatkan oleh pembukaan kebun sawit dan digrogoti sebagai Hutan Tanam Industri di Riau.

Daerah semenanjung Kampar meliputi kabupaten Siak dan Pelalawan. hutan rawa gambut Semenanjung Kampar luasnya mencapai 682.511 hektar tersebar di Kabupaten Siak dan Pelalawan. Daerah hutan gambut tersebut diantaranya:

Film dokumenter Ratapan Sunyi di Semenanjung Kampar berdurasi 23 menit 45 detik, potret masyarakat yang tidak berdaya di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang masuk ke kehidupan mereka. Film garapan Nanang Sujana (Gekko Studio Bogor) ini secara tersirat memperlihatkan persoalan makro dalam pengelolaan hutan di Indonesia yang memerlukan banyak pembenahan di sana-sini.

Film ini telah ditonton dan dibedah di Kantor Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) di Gobah, Kamis, 20 Mei lalu. Budayawan Al Azhar dan Redaktur Pelaksana Riau Pos, Hary B Kori’un, menjadi pembedah dalam diskusi tersebut.

Berikut, beberapa scene yang ada dan tergambar dalam Film Ratapan Sunyi Semenanjung Kampar:

LAUT yang berkabut. Permukaan air hanya terlihat samar-samar. Dari kejauhan terlihat seseorang mengayuh perahu. Perlahan terlihat dari dekat terlihat seorang wanita muda sedang mencari ikan dengan peralatan sederhana.

Beberapa kali dia memasukkan alat penangkap ikannya ke air, tapi setelah diangkat, lagi-lagi tak ada ikan di dalamnya. Beberapa saat setelah itu, terlihat kapal ponton ukuran besar mengangkut kayu chip membelah lautan. Gambar dari atas yang berputar mengitari kapal, memperlihatkan muatan kayu yang diperkirakan ribuan kubik itu.

“...kini situasi laut sudah kacau. Jaring ditabrak kapal tidak diganti, diminta tak mau ngasih...” terdengar suara narator, Pak Akiat. Dia menceritakan bagaimana kecewanya dirinya ketika jaringnya rusak akibat dilanggar kapal. Dia minta jaringnya diganti, namun jawaban pemilik kapal, mereka akan kirim surat ke Jakarta. Akiat marah, “Mana mungkin saya mengambil dua-tiga jaring harus ke Jakarta? Saya sangat kecewa,” kata lelaki asal Desa Penyengat, Sungai Apit, ini.

Setelah itu gambar-gambar memperlihatkan bagaimana alat-alat berat bekerja menerabas hutan, membuat kanal-kanal, dan pekerjaan kehutanan lainnya di lahan gambut Semenanjung Kampar.

Beberapa narator kemudian bermunculan menceritakan kepedihan masyarakat yang sekian lama hidup dalam kesederhanaan. Mereka menganggap pemberian izin kepada perusahaan besar untuk melakukan eksploitasi di kawasan hutan rawa gambut Semenanjung Kampar, adalah tamparan keras bagi mereka karena selama ini ekosistem rawa gambut seluas 700.000 hektare tersebut adalah kawasan yang mestinya tidak dijadikan hutan produksi maupun dikonversi menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan sawit, dan sebagainya.

“Sekarang mencari ikan sudah susah, berburu sudah tak bisa karena hutan gundul. Bagaimana nasib dan masa depan anak-anak kami?” kata Pak Dum, salah seorang petani di Penyengat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank You